Laman

Jumat, 29 Oktober 2010

Inflammatory Bowel Disease

A.    Pendahuluan
Inflammatory bowel disease (IBD) merupakan penyakit peradangan menahun pada usus yang tidak diketahui penyebabnya, kemungkinan melibatkan reaksi sistem imun tubuh terhadap saluran pencernaan. Inflammatory bowel disease terdiri atas dua tipe, yaitu kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Sesuai dengan namanya, kolitis ulseratif hanya mengenai kolon sedangkan penyakit Crohn dapat mengenai semua segmen saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus.1
Penyakit Crohn adalah peradangan menahun pada dinding usus. Penyakit ini mengenai seluruh ketebalan dinding usus. Kebanyakan terjadi pada bagian terendah dari usus halus (ileum) dan usus besar, namun dapat terjadi pada bagian manapun dari saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus, dan bahkan kulit sekitar anus.2
Kolitis Ulserativa merupakan suatu penyakit menahun, dimana usus besar mengalami peradangan dan luka, yang menyebabkan diare berdarah, kram perut dan demam. Tidak seperti penyakit Crohn, kolitis ulserativa tidak selalu memperngaruhi seluruh ketebalan dari usus dan tidak pernah mengenai usus halus. Penyakit ini biasanya dimulai di rektum atau kolon sigmoid (ujung bawah dari usus besar) dan akhirnya menyebar ke sebagian atau seluruh usus besar.3
B.     Epidemiologi
Insiden inflammatory bowel disease dianggap tinggi di negara maju dan rendah di negara berkembang. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada orang yang berkulit putih. Rasio terjadinya penyakit ini pada laki-laki dan perempuan hampir sama. Penyakit ini lebih umum ditemukan pada orang dewasa muda hingga umur tiga puluhan.1
C.    Etiologi
Usus merupakan bagian tubuh yang selalu berhubungan dengan lingkungan pencernaan yang berbahaya. Hal-hal yang bisa membahayakan usus, yaitu pH yang ekstrim, trauma mekanik, infeksi bakteri dan virus pathogen serta toksin. Penyebab inflammatory bowel disease belum diketahui. Penyakit ini mungkin terjadi akibat satu atau lebih faktor lingkungan yang dipicu oleh predisposisi genetic. Penyakit Crohn pada ileum teminalis dihubungkan secara genetic dengan mutasi gen NOD2, yang mungkin merupakan reseptor intraseluler terhadap komponen dinding sel bakteri, diperlihatkan pada monosit dan sel Paneth.4
D.    Patogenesis
Patogenesis terjadinya inflammatory bowel disease masih diteliti. Akibat akhir yang umum terjadi adalah inflamasi mukosa, yang menyebabkan ulserasi, edema, perdarahan, serta kehilangan cairan dan elektrolit. Penelitian terbaru yang dilakukan menemukan bahwa pada kromosom 16 (gen IBD1) yang memastikan identifikasi gen NOD2 (sekarang disebut CARD 15) sebagai gen pertama yang benar-benar berhubungan dengan IBD (sebagai gen yang rentan pada penyakit Crohn). Penelitian ini juga memberikan perhatian besar dengan gen yang rentan terhadap IBD pada kromosom 5  (5q31) dan 6 (6p21 dan 19p). NOD2 atau CARD 15 merupakan gen polimorfik yang berperan pada system imun bawaan. Gen ini memiliki lebih dari 60 variasi. Tiga dari variasi gen tersebut berperan pada 27 % penderita penyakit Crohn, terutama pada penyakit ileum.1
E.     Gejala
1.      Kolitis ulseratif
Suatu serangan bisa mendadak dan berat, menyebabkan diare hebat, demam tinggi, sakit perut dan peritonitis (radang selaput perut). Selama serangan, penderita tampak sangat sakit. Yang lebih sering terjadi adalah serangannya dimulai bertahap, dimana penderita memiliki keinginan untuk buang air besar yang sangat, kram ringan pada perut bawah dan tinja yang berdarah dan berlendir. Jika penyakit ini terbatas pada rektum dan kolon sigmoid, tinja mungkin normal atau keras dan kering. Tetapi selama atau diantara waktu buang air besar, dari rektum keluar lendir yang mengandung banyak sel darah merah dan sel darah putih. Gejala umum berupa demam, bisa ringan atau malah tidak muncul. Jika penyakit menyebar ke usus besar, tinja lebih lunak dan penderita buang air besar sebanyak 10-20 kali/hari. Penderita sering mengalami kram perut yang berat, kejang pada rektum yang terasa nyeri, disertai keinginan untuk buang air besar yang sangat. Pada malam haripun gejala ini tidak berkurang. Tinja tampak encer dan mengandung nanah, darah dan lendir. Yang paling sering ditemukan adalah tinja yang hampir seluruhnya berisi darah dan nanah. Penderita bisa demam, nafsu makannya menurun dan berat badannya berkurang.3
2.      Penyakit Crohn
Gejala awal yang paling sering ditemukan adalah diare menahun, nyeri kram perut, demam, nafsu makan berkurang dan penurunan berat badan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan atau rasa penuh pada perut bagian bawah, lebih sering di sisi kanan. Komplikasi yang sering terjadi dari peradangan ini adalah penyumbatan usus, saluran penghubung yang abnormal (fistula) dan kantong berisi nanah (abses). Fistula bisa menghubungkan dua bagian usus yang berbeda. Fistula juga bisa menghubungkan usus dengan kandung kemih atau usus dengan permukaan kulit, terutama kulit di sekitar anus. Adanya lobang pada usus halus (perforasi usus halus) merupakan komplikasi yang jarang terjadi. Jika mengenai usus besar, sering terjadi perdarahan rektum. Setelah beberapa tahun, resiko menderita kanker usus besar meningkat. Sekitar sepertiga penderita penyakit Crohn memiliki masalah di sekitar anus, terutama fistula dan lecet (fissura) pada lapisan selaput lendir anus. Penyalit Crohn dihubungkan dengan kelainan tertentu pada bagian tubuh lainnya, seperti batu empedu, kelainan penyerapan zat gizi dan penumpukan amiloid (amiloidosis).2
Gejala-gejala penyakit Crohn pada setiap penderitanya berbeda, tetapi ada 4 pola yang umum terjadi, yaitu :2
a.       Peradangan : nyeri dan nyeri tekan di perut bawah sebelah kanan
b.      Penyumbatan usus akut yang berulang, yang menyebabkan kejang dan nyeri hebat di dinding usus, pembengkakan perut, sembelit dan muntah-muntah
c.       Peradangan dan penyumbatan usus parsial menahun, yang menyebabkan kurang gizi dan kelemahan menahun
d.      Pembentukan saluran abnormal (fistula) dan kantung infeksi berisi nanah (abses), yang sering menyebabkan demam, adanya massa dalam perut yang terasa nyeri dan penurunan berat badan.
F.     Diagnosis
1.      Kolitis ulseratif
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan tinja. Pemeriksaan darah menunjukan adanya : anemia, peningkatan jumlah sel darah putih, dan peningkatan laju endap darah. Sigmoidoskopi (pemeriksaan sigmoid) akan memperkuat diagnosis dan memungkinkan dokter untuk secara langsung mengamati beratnya peradangan. Bahkan selama masa bebas gejalapun, usus jarang terlihat normal. Contoh jaringan yang diambil untuk pemeriksaan mikroskopik menunjukan suatu peradangan menahun. Rontgen perut bisa menunjukan berat dan penyebaran penyakit. Barium enema dan kolonoskopi biasanya tidak dikerjakan sebelum pengobatan dimulai, karena adanya resiko perforasi (pembentukan lubang) jika dilakukan pada stadium aktif penyakit. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran penyakit dan untuk meyakinkan tidak adanya kanker. Peradangan usus besar memiliki banyak penyebab selain kolitis ulserativa. Karena itu, dokter menentukan apakah peradangan disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit. Contoh tinja yang diperoleh selama pemeriksaan sigmoidoskopi diperiksa dibawah mikroskop dan dibiakkan. Contoh darah dianalisa untuk menentukan apakah terdapat infeksi parasit. Contoh jaringan diambil dari lapisan rektum dan diperiksa dibawah mikroskop. Diperiksa apakah terdapat penyakit menular seksual pada rektum (seperti gonore, virus herpes atau infeksi klamidia), terutama pada pria homoseksual. Pada orang tua dengan aterosklerosis, peradangan bisa disebabkan oleh aliran darah yang buruk ke usus besar. Kanker usus besar jarang menyebabkan demam atau keluarnya nanah dari rektum, namun harus dipikirkan kanker sebagai kemungkinan penyebab diare berdarah.3
2.      Penyakit Crohn
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya kram perut yang terasa nyeri dan diare berulang, terutama pada penderita yang juga memiliki peradangan pada sendi, mata dan kulit. Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendeteksi penyakit Crohn, namun pemeriksaan darah bisa menunjukan adanya: anemia, peningkatan abnormal dari jumlah sel darah putih, kadar albumin yang rendah, dan tanda-tanda peradangan lainnya. Barium enema bisa menunjukkan gambaran yang khas untuk penyakit Crohn pada usus besar. Jika masih belum pasti, bisa dilakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) dan biopsi untuk memperkuat diagnosis. CT scan bisa memperlihatkan perubahan di dinding usus dan menemukan adanya abses, namun tidak digunakan secara rutin sebagai pemeriksaan diagnostik awal.2
G.    Komplikasi
Inflammatory bowel disease dapat menyebabkan timbulnya gejala-gejala di luar saluran pencernaan, seperti : peradangan sendi (artritis), peradangan bagian putih mata (episkleritis), luka terbuka di mulut (stomatitis aftosa), nodul kulit yang meradang pada tangan dan kaki (eritema nodosum) dan luka biru-merah di kulit yang bernanah (pioderma gangrenosum). Jika Inflammatory bowel disease tidak menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran pencernaan, penderita masih bisa mengalami : peradangan pada tulang belakang (spondilitis ankilosa), peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis), peradangan di dalam mata (uveitis) dan peradangan pada saluran empedu (kolangitis sklerosis primer). Komplikasi penyakit ini, yaitu : perdarahan yang menimbulkan anemia, kolitis toksik, dan kanker kolon.3
H.    Penatalaksanaan
Pengobatan ditujukan untuk membantu mengurangi peradangan dan meringankan gejalanya. Kram dan diare bisa diatasi dengan obat-obat antikolinergik, difenoksilat, loperamide, opium yang dilarutkan dalam alkohol dan codein. Obat-obat ini diberikan per-oral (melalui mulut) dan sebaiknya diminum sebelum makan. Kortikosteroid (misalnya prednisone), bisa menurunkan demam dan mengurangi diare, menyembuhkan sakit perut dan memperbaiki nafsu makan dan menimbulkan perasaan enak. Tetapi penggunaan kortikosteroid jangka panjang memiliki efek samping yang serius. Biasanya dosis tinggi dipakai untuk menyembuhkan peradangan berat dan gejalanya, kemudian dosisnya diturunkan dan obatnya dihentikan sesegera mungkin.2

DAFTAR PUSTAKA
1.      Rowe W. Inflammatory Bowel Disease. http://www.emedicine.com/. Diakses : 14 November 2008
2.      Anonim. Penyakit Crohn. http://www.medicastore.com/. Diakses : 19 November 2008
3.      Anonim. Kolitis Ulserativa. http://www.medicastore.com/. Diakses : 19 November 2008
4.      Keshav S. The Gastrointestinal System at a Glance. London : Ashford Colour Press. 2004

1 komentar:

  1. Bagaimana mengobati kencing nanah tanpa obat?

    Mengobati kencing nanah tanpa obat mungkin sangat kecil kemungkinan yang bisa dilakukan dengan cara ini. Karena jika anda menderita penyakit maka anda harus melakukan pemeriksaan dan pengobatan dengan dokter yang tentunya akan diberikan obat yang sesuai dengan penyebabnya.
    Apa yang anda rasakan jika anda terkena atau terinfeksi penyakit menular seksual ini?

    1. Stress, Malu, Takut di Kucilkan
    2. Putus asa
    3. Malu untuk melakukan pemeriksaan dengan dokter

    "Jika anda merasakan gejala atau tanda2 kencing nanah, jangan merasa malu untuk melakukan pemeriksaan. segera lakukan pengobatan secepat mungkin untuk membantu anda agar terhindar dari infeksi penyakit lain yang dapat di timbulkan dari penyakit kencing nanah."
    Silahkan konsultasikan keluhan yang anda rasakan pada kami. Klinik apollo merupakan salah satu klinik sepesialis kulit dan klamin terbaik di jakata. Ditunjang tekhnologi modern serta dokter yang sudah berpengalaman dibidangnya, kami dapat membantu memberikan solusi untuk keluhan penyakit kelamin yang anda rasakan.

    Kunjungi halaman facebook kami di : Klinik Spesialis Kelamin Apollo

    Kulup panjang | Kulup bermasalah tidak usah mau sunat

    Ejakulasi dini bisa sembuh | Sunat dewasa di klinik apollo

    Chat | Klini chat

    BalasHapus