Laman

Sabtu, 30 Oktober 2010

Pilek Menahun

Skenario 
Seorang laki-laki umur 15 tahun datang ke puskesmas dengan riwayat menderita pilek selama kira-kira 1 tahun. Kadang-kadang pilek ini disertai lendir pada tenggorokan yang dirasakan berasal dari belakang hidung. Pada waktu kecil ia sering menderita sesak napas.
Skenario 
Seorang laki-laki umur 15 tahun datang ke puskesmas dengan riwayat menderita pilek selama kira-kira 1 tahun. Kadang-kadang pilek ini disertai lendir pada tenggorokan yang dirasakan berasal dari belakang hidung. Pada waktu kecil ia sering menderita sesak napas.

Kata Sulit
      Pilek
Pilek adalah gejala penyakit berupa rinore yang berlebihan pada cavum nasi hingga ke nasofaring disertai bersin berulang.

Kalimat kunci
  1. Laki-laki 15 tahun
  2. Pilek selama setahun
  3. Lendir pada tenggorokan
  4. Lendir dari belakang hidung
  5. Sesak napas saat kecil

Pertanyaan
  1. Bagaimana anatomi, histologi, dan fisiologi hidung ?
  2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyakit dengan gejala pilek ?
  3. Bagaimana respon imun tubuh terhadap penyakit dengan gejala pilek ?
  4. Bagaimana patomekanisme penyakit-penyakit dengan gejala pilek ?
  5. Bagaimana perubahan histopatologis jaringan hidung pada reaksi alergi tipe1?
  6. Penyakit-penyakit apa saja yang memiliki gejala pilek ?
  7. Bagaimana cara penatalaksanaan penyakit-penyakit dengan gejala pilek ?

Jawaban Pertanyaan
1. Anatomi, histologi, dan fisiologi hidung.
Anatomi Hidung
Hidung terdiri dari hidung bagian luar atau piramid hidung dan rongga hidung dengan pendarahan serta persarafannya, serta fisiologi hidung. Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah pangkal hidung (bridge), dorsum nasi, puncak hidung, ala nasi, kolumela, dan lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung.
               
Kerangka tulang terdiri dari tulang hidung (os nasalis), prosesus frontalis os maksila, dan prosesus nasalis os frontal. Sedangan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak dibagian bawah hidung, yaitu sepasang kartilago nasalis lateralis superior, sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago alar mayor, beberapa pasang kartilago alar minor, dan tepi anterior kartilago septum.
Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.
        
Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior.
Dinding medial hidung adalah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os maksila, dan krista nasalis  os palatina. Bagian tulang rawan adalah kartilago septum (lamina kudrangularis), dan kolumela. Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan di belakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral hidung.
          
Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media, lebih kecil lagi ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema ini biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid.
Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapt rongga sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medianus dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris, dan infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksila, dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruam diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.
Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a.etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a.oftalmika, sedangkan a.oftalmika berasal dari a.karotis interna.

Pembuluh darah hidung
Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a.maksilaris interna, diantaranya ialah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung dibelakang ujung posterior konka media.
Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a.fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior, dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach (little area). pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis (pendarahan hidung), terutama pada anak.
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial.

Persarafan hidung
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus (N.V-1). Rongga hidung lainnya sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatinum.
Ganglion sfenopalatinum, selain memberikan persarafan sensoris, juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila (n.V-2), serabut parasimpatis dari n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media.
Nervus olfaktorius. Saraf ini turun melalui lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus alfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.

Mukosa hidung
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernapasan (mukosa respiratori) dan mukosa penghidu (mukosa olfaktorius). Mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel selapis torak berlapis semu (pseudo stratified columnar ephitelium) yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel-sel goblet.
Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang-kadang terjadi metaplasia, menjadi sel epitel skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pda permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel-sel goblet.
Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan di dorong ke arah nasofaring. Dengan demikian, mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung.
Gangguan pada fungsi silia akan mengakibatkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat-obatan. Di bawah epitel terdapat tunika propria yang banyak mengandung pembuluh darah, kelenjar mukosa, dan jaringan limfoid.
Pembuluh darah pada mukosa hidung mempunyai susunan yang khas. Arteriol terletak pada bagian yang lebih dalam dari tunika propia dan tersusun secara paralel dan longitudinal. Arteriol ini memberikan pendarahan pada anyaman kapiler periglanduler dan subepitel. Pembuluh aferen dari anyaman kapiler ini membuka kerongga sinusoid vena yang besar yang dindingnya dilapisi oleh jaringan elastik dan otot polos. Pada bagian ujungnya sinosoid ini mempunyai sfingter otot. Selanjutnya sinusoid akan mengalirkan darahnya ke pleksus vena yang lebih dalam lalu ke venula. Dengan susunan demikian, maka mukosa hidung menyerupai suatu jaringan kavernosus yang erektil, yang mudah mengembang dan mengerut. Vasodilatasi dan vasokonstriksi pembuluh darah ini dipengaruhi oleh saraf otonom.
Pada bagian bawah, mukosa melekat erat pada periostium atau perikondrium.
Mukosa sinus paranasal berhubungan langsung dengan mukosa rongga hidung di daerah ostium. Mukosa sinus menyerupai mukosa rongga hidung, hanya lebih tipis dan pembuluh darahnya juga lebih sedikit. Tidak ditemukan rongga – rongga vaskuler yang besar. Sel-sel kelenjar dan goblet juga lebih sedikit dan terutama ditemukan dekat ostium. Palut lendir di dalam sinus dibersihkan oleh silia dengan gerakan menyerupai spiral ke arah ostium. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseusostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna cokelat kekuningan.

Histologi Hidung
Mukosa Pernapasan Hidung
Epitel organ pernapasan yang bisanya berupa epitel toraks bersilia, bertingkat palsu (Pseudostratified), berbeda-beda pada berbagai bagian hidung, tergantung pada tekanan dan kecepatan aliran udara, demikian pula suhu, dan derajat kelembaban udara. Jadi, mukosa pada ujung anterior konka  dan septum sedikit melampaui os internum masih dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa silia—lanjutan epitel kulit vestibulum nasi. Sepanjang jalur utama arus inspirasi epitel menjadi toraks; silia pendek irregular. Sel-sel meatus media dan inferior yang terutama menangani arus ekspirasi memiliki silia yang panjang yang tersusun rapi. Sinus mengandung epitel kubus dan silia yang sama panjang dan jarak antaranya. Kekuatan aliran udara yang meewati berbagai lokasi juga mempengaruhi ketebalan lamina propia dan jumlah kelenjar mukosa. Lamina propia tipis pada daerah di mana aliran udara lambat atau lemah, namun tebal di daerah aliran udara yang kuat.
Jumlah kelenjar penghasil secret dan sel goblet, yaitu sumber lapisan dari mucus, sebanding dengan ketebalan lamina propia. Lapisan mucus yang sangat kental dan lengket menangkap debu, benda asing dan bakteri yang terhirup, melalui kerja silia benda-benda di angkut ke faring, selanjutnya diotelan dan dihancurkan dalam lambung. Lisosim dan immunoglobin A (IgA) ditemukan pula dalam lapisan mucus, dan melindungi lebih lanjut terhadap pathogen. Lapisan mucus diperbaharui tiga sampai empat kali dalam satu jam. Silia-struktur kecil mirip rambut- bergerak serempak secara cepat ke arah lapisan, kemudian membengkok dan kembali tegak dengan lebih lambat. Kecepatan pukulan silia kira-kira 700-1000 siklus per menit.
        
Silia
Silia yang panjangnya sekitar 5-7 mikron terletak pada lamina akhir sel-sel permukaan ephitelium, dan jumlahnya sekitar 100 per micron persegi, atau sekitar 250 per sel pada saluran pernapasan atas. Silia tampaknya bekerja hamper otomatis. Misalnya, sel saja dapat terbelah menjadi pecahan-pecahan kecil tanpa menghentikan gerakan silia; suatu silia tunggal akan terus bergerak selama bagian kecil kecil sitoplasma yang menvelubungi corpus basalis tetap melekat padanya. Semua silia pada suatu daerah epitel dikoordinasikan dengan cara yang mengagumkan. Masing-masing silia pada saat melecut, bergerak secara metakronis dengan silia di sekitarnya. Bila Iecutan silia diamati, maka lajur silia akan membengkok serempak dan baris silia membengkok berurutan. Lecutan tersebut tidak hanya terkordinasi menurut waktu, tetapi juga menurut arahma pada jutaan epitel dalam sinus, yang merupakan fal.tor penting dalam mengangkut rnukus ke nasofaring.
Struktur silia telah terungkap melalui mikroskop electron. Terbentuk dari dua mikrotu­bulus sentral tunggal yangdikelilingi sembilan paanG_mikrotubulus, sentuanca terbungkus dalam tnentbr~ an sel berlapis tiga yang tipis dan rapuh. Masing-masing silium terdiri dari suatu batang, ujung vanc makin mengecil, dan korpus basalis. Tidak semua mikrotubulus berlaryut hingea ke ujung silia. Kedua mikrotubulus seniral tunggal tidak melewati bagian bau-ah perntukaan sel. tiantun, tepat di bawah peemukaan sel, tiap pasang mikrotubulus perifer bergabung dengan mikrotubulus ketiga dalam korpus basalis, yaitu strukur yang ditemukan dalam sitoplasma apikal. Triplet ini terus berjalan turun ke dalam sitoplasma apikal sebagai radiks silia, dan perlahan-lahan menghilang.
Dalam hal melecut, masing-masing silia tidak hanva bergerak ke depan dan ke belakang seperti tangkai gandum di ladang. Tiap lecutan memiliki suatu.fase dengan kekuatan penuh yang berlangsung cepat searah aliran di ntana silium tegak dan kaku, Yang diikuti suatu fase pemulihan vang lebih lam­bat di mana silium mcmbengkok. Huhungan waktu antar fase efektif dan fase pemulihan tengah dteliti dengan percobaan yang memakai tikus. Rasionya adalah 1:3, yaitu fase efektif memerlukan segitiga dari waktu fase pemulihan. Lecutan itu bukannya tidak mirip kayuhan lengan perenang.

Area Olfaktorius
Variasi antar individu yang besar mencirikan struktur regio penghidu; perbedaan ini dapat me­nyangkut ketebalan mukosa (biasanya sekitar 60 mikron), ukuran sel, dan vesikel olfaktorius. Perba­tasan regio penghidu dengan regio pernapasan umumnya berbatas tegas meskipun tidak teratur. Pada manusia, epitel ppenghidu bertingkat toraks terdiri dari tiga ienis sel: (1) sel saraf bipolar olfaktorius; (2) sel sustentakular penyokong yang besar jumlahnya dan (3) sejumlah sel basal yang kecil, agaknya merupakan sel induk dari sel sustentakular.
                                                              

Suplai Darah
Cabang sfenopalatina dari arteri maksilaris interna menyuplai konka meatus, dan septum. Cabang etmoidalis anterior dari arteri oftalmika menyuplai sinus frontalis dan etmoidalis serta atap hidung. Sedangkan sinus maksilaris diperdarahi oleh suatu cabang arteri labialis superior dan cabang infraorbitalis serta alvcolaris dari arteri maksilaris interna disebarkan ke sinus sfenoidalis. Vena-vena membentuk suatu pleksus kevernosus yang rapat di bawah membrane mukosa. Pleksus ini terlihat nyata di atas konka media dan inferior, serta bagian bawah septum di mana ia membentuk jaringan erektil. Drainase vena terutama melalui vena oftalmika, fasialis anterior, dan sfenopalatina.
    
Sistem Limfatik
Suplai limfatik hidung amat kaya di mana terdapat jaringan pembuluh anterior dan posterior. Ja­ringan limfatik anterior adalah kecil dan bemuara di sepanjang pembuluh fasalis vang menuiu leher. Jaringan       ini mengurus hampir seluruh bagian antcrior hidung vestibulum dan dacrah prekonka. Jaringan limfatik posterior mengurus mayoritas anatomi hidung, mengabungkan ketiga saluran utama di daerah hidung belakang saluran superior, media dan inferior. Kelompok superior dari konka media dan superior bagian dinding hidung yang berkaitan, berjalan di atas tuba eus­takius dan bermuara pada kelenjar limfe retrofaringea. Kelompok media berjalan di bawah tuba eustakius mengurus konka inferior dan superior, meatus inferior dan sebgaian dasar hidung, dan menuju rantai kelenjar limfe jugularis. Kelompok inferior berasal dari septum dan sebagian dasar hidung , bcrjalan, menuju kelenjar limfe di sepanjang pembuluh jugularis interna


                   
Suplai Saraf
Yang terlibat langsung adalah saraf kranial pertama untuk penghiduan, divisi oftalmikus dan mak­silaris dari saraf trigeminus untuk impuls aferen sensorik lainnva, saraf fasialis untuk gerakan otot-otot pernapasan pada hidung luar, dan sistem saraf otonom. Yang terakhir ini terutanta tnela(ui ganglion sfenopalatina, guna mengontrol diameter vena dan arteri hidung, dan juea produksi mukus, dengan demikian dapat mengubah pengaturan hantaran, suhu dan kelembaban aliran udara.

Fisiologi Hidung
Hidung berfungsi sebagai jalan napas, alat pengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara, sebagai indera penghidu, untuk resonansi suara, turut membantu proses bicara, dan refleks nasal.
a. Sebagai jalan napas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik keatas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian akan melalui nares anterior dan sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.
b. Pengatur kondisi udara (air conditioning)
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus paru. Fungsi ini dilakukan dengan cara mengatur kelembaban udara dan mengatur suhu.
Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir (mucous blanket). Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi keadaan sebaliknya.
Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah dibawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas, sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o Celcius.
c. Sebagai penyaring dan pelindung
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirsi dari debu dan bakteri dan dilakukan oleh rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi, silia, dan palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia, faktor lain adalah enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, yang disebut lysozyme.
      d. Indra penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indera penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau dengan menarik napas dengan kuat.
e. Resonansi suara
Resonansi untuk hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau (rinolalia).
      f. Proses bicara
Hidung membantu proses pembentukan kata-kata. Kata dibentuk oleh lidah, bibir dan palatum molle. Pada pembentukan konsonan naasal (m, n, ng) rongga mulut tertutup dan hidung terbuka, palatum mole turun untuk aliran udara.
      g. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernapasan. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan napas terhenti. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit dengan gejala pilek adalah genetik, lingkungan, sistem imun, dan kebugaran.
a. Genetik
Seseorang dengan riwayat keluarga memiliki penyakit yang bergejala pilek memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menderita penyakit yang sama.
b. Lingkungan
Lingkungan juga sangat mempengaruhi timbulnya penyakit dengan gejala pilek. Alergen lingkungan dapat berupa outdoor alergen dan indoor alergen. Outdoor alergen berupa pollen, spora jamur, bunga, dan rumput. Indoor alergen berupa debu, jamur, dan binatang peliharaan.
c. Sistem imun
Seseorang yang memiliki sistem imun yang baik tidak akan mudah terkena penyakit. Akan tetapi, sebaliknya seseorang yang memiliki sistem imun yang kurang baik akan mudah terkena penyakit.
d. Kebugaran
Seseorang yamng memilki tubuh yang sehat dan  bugar tidak akan mudah terkena penyakit.


3. Respon imun tubuh terhadap penyakit dengan gejala pilek, yaitu:
a.   Respons primer
Pada respon imun primer terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen. Reaksi ini bersifat nonspesifik dan dapat berakhir sampai disini. Bila antigen tidak berhasil seluruhnya dihilangkan maka reaksi berlanjut menjadi respons sekunder.
b.   Respons sekunder
Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai tiga kemungkinan ialah sistem imunitas selular atau humoral atau keduanya dibangkitkan. Bila antigen berhasil dieliminasi pada tahap ini maka reaksi selesai. Bila antigen masih ada atau memang sudah ada defek dari sistem imunonogik maka respons berlanjut menjadi respons tersier.
c.   Respons tersier
Reaksi imunologik yang terjadi ini tidak menguntungkan tubuh. Reaksi ini dapat bersifat sementara atau menetap tergantung dari daya eliminasi antigen oleh tubuh.

4.  Patomekanisme penyakit dengan gejala pilek, yaitu: Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan Late Phase Allergic Reaction  atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2 – 4 jam dengan puncak 6 – 8 jam (fase hiperreaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24 – 48 jam.
Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitasi, makrofag atau monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell / APC) akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah di proses, antigen akan membentuk fragmen pendek peptida dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk kompleks peptida MHC kelas II (Major Histocompatibility Compleks) yang kemudian di presentasikan pada sel T helper (Th 0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin – 1 (IL 1) yang akan mengaktifkan Th 0 untuk berploriferasi menjadi Th 1 dan Th 2. Th 2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL 3, IL 4, IL 5 dan IL 13.
IL 4 dan IL 13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi Immunoglobulin E (Ig E). Ig E di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor Ig E di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitasi. Bila mukosa yang sudah tersensitasi terpapar dengan alergen yang sama, maka kedua rantai Ig E akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Performed Mediators) terutama histamin. Selain histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrien D4 (LT D4), Leukotrien C4 (LT C4), bradikinin,  Platelet Activating Factor (PAF) dan berbagai sitokin. (IL 3, IL 4, IL 5, IL 6, GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor) dll. Inilah yang disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC).
Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamin juga akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas vaskuler meningkat sehingga terjadi rinore. Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamin merangsang ujung saraf vidianis, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM 1).
Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. Respon ini tidak berhenti sampai disini saja, tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6-8 jam setelah pemaparan. Pada RAFL ini ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit, netrofil, basofil dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL 3, IL 4, IL 5 dan Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan ICAM 1 pada sekret hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator infalmasi dari granulnya seperti  Eosinophilic Cationic Protein (ECP), Eosinophilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein (MBP), dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). Pada fase ini, selain faktor spesifik (alergen), iritasi oleh faktor nonspesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban udara yang tinggi.
     

5.  Perubahan histopatologs jaringan akibat penyakit dengan gejala pilek adalah secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh darah (vascular bad) dengan pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mukus. Terdapat juga pembesaran ruang interseluler dan penebalan membran basal, serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan mukosa dan submukosa hidung.
                Gambaran yang demikian terdapat pada saat serangan. Diluar keadaan serangan, mukosa kembali normal. Akan tetapi serangan dapaat terjadi terus menerus (persisten) sepanjang tahun, sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang irreversible, yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan hiperplasia mukosa, sehingga tampak mukosa hidung menebal.

Tujuan Pembelajaran Selanjutnya
Tujuan pembelajaran selanjutnya, yaitu:
1. Mengetahui penyakit-penyakit yang memiliki gejala pilek.
2. Mengetahui etiologi penyakit-penyakit yang memiliki gejala pilek.
3. Mengetahui gejala klinis penyakit-penyakit yang memiliki gejala pilek.
4. Mengetahui penatalaksanaan penyakit-penyakit yang memiliki gejala pilek.

Informasi Baru
Penyakit-penyakit yang memiliki gejala pilek adalah rinitis alergi, rinitis, vasomotor, rinitis medikamentosa, dan sinusitis.
a. Rinitis alergi
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (Von Pirquet, 1986). Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar dengan alergen yang diperantarai oleh Ig E.
b. Rinitis medikamentosa
           Rhinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung, berupa gangguan respon normal vasomotor, sebagai akibat dari pemakaian vasokonstriktor topikal (obat tetes hidung atau obat semprot hidung ), dalam waktu lama dan  jumlah yang berlebihan. (drug abuse)
c. Rinitis vasomotor
Rinitis vasomotor adalah gangguan fisiologis mukosa hidung karena adanya gangguan keseimbangan saraf otonom sehingga terjadi peningkatan aktivitas prasimpatis. Akibatnya terjadi peningkatan konsentrsi asetilkolin yang menyebabkan dilatasi pembuluh darah dalam konka serta peningkatan permeabilitas kapiler sehingga menimbulkan edema dan hippersekresi kelenjar.
d. Sinusitis
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paral. Sesuai anatomi sinus yang terkena, dapat dibagi menjadi sinusitis maksilla, sinusitis ethmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sfenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus sinus paranasal disebut pansinusitis. Yang paling sering ditemukan ialah sinusitis maksilla dan sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid lebih jarang. Pada anak hanya sinus maksila dan sinus etmoid yang berkembang, sedangkan sinus frontal dan sinus sfenoid belum.

Klasifikasi Informasi
1.  Rinitis alergi
Dahulu, rinitis alergi dibedakan dalam dua macam berdasarkan sifat berlangsungnya, yaitu rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis) dan rinitis alergi sepanjang tahun (perenial). Gejala keduanya hampir sama, hanya berbeda dalam sifat berlangsungnya.
Saat ini digunakan klasifikasi rinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO Initiative ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2000, yaitu berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi intermitten (kadang-kadang) bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu dan persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan atau lebih dari 4 minggu. Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi ringan, bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian, bersantai, beolahraga, belajar, bekerja, dan hal-hal lain yang mengganggu dan sedang atau berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas.
2.  Rinitis medikamentosa
Obat vasokonstriktor topikal sebaiknya isotonik dengan sekret hidung yang normal, dengan pH antara 6,3 dan 6,5, serta pemakaiannya tidak lebih dari satu minggu. Jika tidak, akan terjadi kerusakan pada mukosa hidung  berupa silia rusak, sel goblet berubah ukurannya, membran basal menebal, pembuluh darah melebar, stroma tampak edema, hipersekresi kelenjar mukus, lapisan submukosa menebal, dan lapisan periostium menebal
Gejala klinis rinitis medikamentosa yaitu pasien mengeluh hidungnya tersumbat terus menerus dan berair. Pada pemeriksaan tampak adanya edema konka dengan sekret hidung yang berlebihan. Apabila diuji dengan adrenalin edema konka tidak berkurang.
3. Rinitis vasomotor
Penyebab yang sebenarnya pada rinitis vasomotor belum diketahui, diduga akibat gangguan keseimbangan vasomotor. Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi berbagai hal yaitu obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti ergotamin, chlorpomazin, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topikal. Selain itu, rinitis vasomotor juga disebabkan oleh faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi dan bau yang merangsanga dan makanan yang pedas dan panas. Disebabkan juga faktor endokrin, seperti keadaan kehamilan, puberts, pemakaian pil antihamil dan hipotiroidisme serta faktor psikis, seperti rasa cemas dan tegang
Gejala yang didapatkan pada penderita rinitis vasomotor ialah hidung tersumbat, bergantian kiri atau kanan, tergantung pada posisi pasien. Selain itu terdapat rinore yang mukus atau serus, kadang-kadang agak banyak. Keluhan ini jarang disertai dengan bersin, dan tidak terdapat rasa gatal di mata. Gejala dapat memburuk di pagi hari waktu bangun tidur oleh karena adanya perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga oleh karena asap rokok dan sebagainya.
4. Sinusitis
Berdasarkan gejala yang menonojol, kelainan ini dibedakan daam 2 golongan, yaitu golongan obstruksi dan goongan rinore. Prognosis pengobatan golongan rinore. Oleh karena golongan rinore sangat mirip dengan rinitis alergi, perlu anamnesis dan pemeriksaan yang teliti untuk memastikan diagnosisnya. Pemeriksaan rinoskopi anterior menunjukkan ggambaran klasik berupa edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua, dapat pula pucat. Permukaannya dapat lilcin atau berbenjol. Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit.
Diketahui bahwa berbagai faktor fisik, kimia, saraf, hormonal dan emosional dapat mempengaruhi mukosa hidung, demikian juga mukosa sinus dalam derajat yang lebih rendah. Secara umum, sinusitis kronik lebih lazim  pada iklim yang dingin dan basah. Defisiensi gizi, kelemahan, tubuh yang tidak bugar, dan penyakit sistemik umum perlu dipertimbangkan dalam etiologi sinusitis. Perubahn dalam faktor-faktor lingkungan, misalnya dingin, panas, kelembaban, dan kekeringan, demikian pula polutan atmosfer termasuk asap tembakau, dapat merupakan predisposisi infeksi. Dalam daftar predisposisi umum ini harus ditambahkan paparan terhadap infeksi sebelumnya, misalnya common cold.

Analisis dan Sintesis Informasi
Berdasarkan patomekanisme dan gejala klinis dari penyakit-penyakit yang menjadi differensial diagnosis maka dapat diketahui bahwa pasien tersebut menderita penyakit Rinitis Alergi. Hal itu sesuai dengan gejala yang dialami oleh pasien tersebut dalam skenario, yaitu pasien mengalami rinorea dan  bersin. Gejala yang dialami oleh pasien tersebut sesuai dengan gejala klinis pada penyakit Rinitis alergi. Gejala rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin berulang. Sebetulnya, bersin merupakan suatu gejala yang normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process). Bersin dianggap patologik, bila terjadinya lebih dari lima kali setiap serangan, terutama merupakan gejala pada RAFC dan kadang-kadang pada RAFL sebagai akibat dilepaskannya histamin.
Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Seringkali gejala yang timbul tidak lengkap, terutama pada anak. Kadang-kadang keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau satu-satunya gejala yang diutarakan oleh pasien.
Gejala spesifik lain pada anak ialah terdapatnya bayangan gelap didaerah bawah mata yang terjadi karena statis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Gejala ini disebut allergic shiner. Selain dari itu, sering juga tampak anak menggosok-gosok hidung karena gatal dengan punggung tangan. Keadaan ini disebut sebagai allergic salute. Keadaan menggosok hidung ini lama kelamaan akan mengakibatkan timbulnya garis melintang di dorsumnasi bagian sepertiga bawah, yang disebut allergic crease.
Adapun penatalaksanaan dari penyakit rinitis alergi adalah sebagai berikut :
1. Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan alergen penyebabnya (avoidance) dan eliminasi.
2.      Simtomatis
      a. Medikamentosa
Antihistamin yang dipakai adalah antagonis histamin H-1, yang bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target, dan merupakan preparat farmakologik yang paling sering dipakai sebagai lini pertama pengobatan rinitis alergi. Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral.
Antihistamin dibagi dalam dua golongan yaitu golongan antihistamin generasi-1 (klasik) dan generasi -2 (non sedatif). Antihistamin generasi-1 bersifat lipofilik, sehingga dapat menembus sawar darah otak (mempunyai efek pada SSP) dan plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Yang termasuk kelompok ini antara lain difenhidramin, klorfeniramin, prometasin, siproheptadin sedangkan yang dapat diberikan secara topikal adalah azelastin.
b. Operatif
Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu dipikirkan bila konka inferior hipertropi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25 % atau triklor asetat.
c. Imunoterapi
Desensitasi dan hiposensitasi, cara pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan.
d. Netralisasi
Cara netralisasi dilakukan untuk alergi makanan. Pada netralisasi, tubuh tidak membentuk ”bloking antibody” seperti pada desensitasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar